Tak Mudah Merestorasi Sebuah Lukisan, Sann: Perlu Ilmu dan Penjiwaan

foto

Bandung, Zonabandung.com -- Untuk tetap dapat menikmati sebuah karya seni tentunya perlu perawatan dan pelestarian. Bahkan beberapa karya seni harus direstorasi atau mengembalikan seperti keadaan semula.

Menurut Sann Santoso, seorang pelukis yang juga salah satu murid Barli, tidak mudah merestorasi suatu lukisan jika tidak memiliki ilmu tersebut terlebih, lukisan yang direstorasi milik sang Maestro, contohnya seperti karya karya pelukis Barli Sasmitawinata.

Pria yang telah banyak memperbaiki lukisan para maestro terkenal memaparkan, merestorasi atau disebut bengkel seni, adalah memperbaiki lukisan yang rusak seperti sobek, atau pecah seribu.

"Saya sebagai salah satu murid Pak Barli yang punya kemampuan merestorasi, terpanggil untuk mengkonservasi karya-karya Barli, karena ini wujud bakti saya sebagai murid kepada guru,” ucapnya di Museum Barli, Jl. DR. Sutami, Bandung, Rabu (21/7/2021).

Disamping itu saya mengetahui banyak makna dan cerita dibalik karya-karyanya yang saya rasa sangat amat sayang apabila sampai rusak," papar Mas San, panggilan akrab Santoso.

Menurutnya, seorang pelukis, harus bisa menjiwai suatu lukisan yang akan direstorasi. Karena disitu juga harus ada penghayatan.

"Saat merestorasi suatu lukisan, kita harus bisa menjadi sang pelukis itu sendiri. Sebut saja misalnya lukisan milik Popo Iskandar, agar lukisannya hidup, pelukis harus jadi beliau, supaya ada "ruh" nya. Nggak bisa ujug ujug, karena disitu ada basteuk, cengkok, dan juga gerakan gerakan yang susah ditiru," tambah Mas San yang telah melanglangbuana ke berbagai negara ini.

Sementara untuk merestorasi satu lukisan, membutuhkan waktu satu minggu hingga hitungan bulan. Tergantung kerusakannya.

"Setelah nanti semua lukisan selesai direstorasi, akan digelar pameran, 100 Tahun Barli, dengan tema Membangun, Menjaga Rasa Melalui Karya Barli Sasmitawinata, di studio Rangga Gempol - Bandung.

Pameran tersebut yaitu diinisasi oleh Direktur Museum Barli yang juga penulis sejarah Maestro Barli bernama Ryzki.

"Mungkin diselenggarakan setelah PPKM Darurat, karena situasi saat ini tidak memungkinkan," pungkas Mas San. Museum Barli saat ini dipegang oleh sang cucu Aditya.

Editor: Shelly Sillviana

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Rutan Perempuan Bandung Bagikan Masker, Handsanitizer dan Vitamin
Oded Gerakan Bandung Berbagi, Melalui BEEC Sumbang Rp 50 Juta
Kemenkumham Resmi Buka Pendaftaran Penerimaan CASN Tahun 2021
Pengusaha Milenial Riris Riska, Bagi-bagi Tips Bisnis di Masa PPKM Darurat
Berikan Tausiah Virtual, Oded: Hal Terpenting Hadapi Covid-19 Kesiapan Mental