Dampak Pandemi Terhadap Kaum Kecil Sangat Terasa

  • Audin
  • Jumat, 30 Oktober 2020 | 16:35 WIB
foto

Majalengka, Zonabandung.com -- Sejak kemunculan wabah Covid-19 di kota Wuhan China dan menyebar secara masiv hampir ke seluruh dunia, telah menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita.

Pandemi ini telah menyebabkan gangguan sosioekonomi secara global. Bahkan ancaman resesi ekonomi tengah mengancam nengara-negara yang terdampak pandemic ini.

Tercatat, hingga 5 Oktober 2020 pukul 19.35 WIB, Worldmeters merilis jumlah kasus terinfeksi Covid-19 di dunia meningkat melewati 35.444.474 orang. Sementara total kasus kematian akibat terpapar Covid-19 menyentuh angka 1.042.616 orang dan kasus sembuh berjumlah 26.650.114 pasien.

Di Indonesia sendiri menurut data resmi dari Pusdatin Kementerian Kesehatan, jumlah kasus terkonfirmasi pada 21 Oktober 2020 mencapai 396,454 orang, dengan jumlah kasus meninggal sebanya 13,512 orang dan yang sembuh mencapai 322,248 orang.

Dengan semakin bertambahnya kasus virus Corona di negara kita ini, maka pemerintah mengeluarkan sejumlah aturan sebagi metode pencegahan agar penyebaran tak semakin meluas, diantaranya social distance atau menjaga jarak.

Kemudian banyak daerah yang melakukan karantina wilayah/parsial agar meminimalisir penyebaran virus ini. Bahkan beberapa bulan ke belakang pemerintah telah mengeluarkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020.

Sejak pandemi ini muncul serta digulirkannya regulasi pembatasan pergerakan orang, banyak sekali dampak yang terjadi bagi perekonomian masyarakat Indonesia. Terutama bagi masyarakat kelas bawah seperti para pedagang kaki lima dan buruh lepas.

Seperti halnya yang dirasakan oleh Agus (31) tukang sol sepatu yang sudah bertahun tahun menjalankan profesinya di Prapatan lampu merah Pasar Kadipaten Majalengka.

Ia dan kawan kawannya merasakan sekali damapak dari munculnya Pandemi ini. Himpitan ekonomi semakin ia rasakan semenjak orang orang tak lagi banyak melakukan aktivitas karena pembatasan sosial bersekala besar (PSBB).

“Sejak adanya Covid-19 ini, dagangan saya jadi sepi, jarang sekali orang yang memakai jasa saya, kadang, seharian saya tidak ada konsumen. Padahal di rumah saya ditunggu anak istri biar dapur bias ngebul,” ungkap Agus kepada Zonabandung.com, Jumat (30/10/2020).

Diakui Agus, pada hari-hari biasa sebelum terjadinya pandemic, pendapatannya berkisar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah per hari, namun dari semenjak wabah Corona melanda Indonesia pada Maret 2029, pendapatan Agus semakin berkurang, terkadang hasil dia bekerja hanya cukup untuk membeli sebatang rokok saja.

Agus menceritakan, saat Hari Raya Idul Fitri kemarin, ia merasakan kehilangan pelanggannya, padahal saat saat moment seperti itu yang sangat ia tunggu tunggu.

Saat menjelang lebaran menurut Agus, pendapatannya meningkat, bisa sampai 3 kali lipat per hari. Namun saat menjelang lebaran kemarin, saat orang takut keluar karena Corona, ia tak bisa lagi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bekal keluarganya di hari raya.

Tidak hanya Agus, dampak pandemi ini pun dirasakan bagi sopir angkutan umum yang juga mengalami penurunan pendapat yang signifikan.

"Biasanya, saya dapat Rp 100 sampai 150 ribu per hari. Sekarang, hanya dapat uang antara 30 ribu sampai Rp 40 ribu sehari. Bahkan, teman-temannya sesama sopir angkot sudah tidak beroperasi lantaran sepinya penumpang," terang Endan sopir angkot.

Namun Endan masih turun ke lapangan untuk menarik angkot lantaran tidak punya mata pencaharian lain. Ia berharap, pandemi Covid-19 bisa segera berakhir, sehingga ia dan sopir lainnya bisa kembali beraktivitas secara normal.

"Tentu ingin segera berakhir. Kalau begini terus, bisa menderita saya. Soalnya harus bayar, tagihan kriditan kendaraan, dan lain-lain. Juga kasih makan anak istri, "katanya.

Sementara menurut Yudi sopir elf jurusan Talaga Majalengka mengatakan, aktivitas operasi mobil tidak dibatasi, namun tetap saja masyarakat jarang sekali yang berpergian.

"Akibat jarangnya masyarakat bepergian, mengakibatkan pendapatan jauh merosot mau, kerja lain tidak punya keterampilan," ujar Yudi sembari memperlihatkan kondisi sekitar terminal maja tempat biasa dia mangkal.

Kendati demikian dirinya masih tetap bersyukur, setidaknya masih bisa mencari nafkah untuk keluarga.

"Semoga kondisi pandemi ini segera berakhir. Masyarakat Indonesia harus tetap optimis untuk menyongsong hari-hari yang lebih sehat," harapnya.

Menurut pemantauan, sampai hari ini, semenjak beberapa daerah memberlakukan pembatasan pergerakan orang, bahkan sampai ada yang melakukan karantina parsial, banyak masyarakat kecil yang kehilangan pendapatannya.

Para sopir Angkot yang kehilangan penumpangnya, tukang sol sepatu yang kehilangan pelanggannya dan pedagang kali lima yang merugi karena pembeli sangat jarang bahkan tak ada. Namun mereka masih tetap mencari peruntungan karena hidup harus terus berjalan.

Ditengah pandemi ini, mereka harus tetap berjuang mencari nafkah agar anggota keluarganya tak kelaparan. Bantuan yang digulirkan pemerintah berupa BLT dan BST, belum bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Editor: Shelly Sillviana

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Kalia Siska Kembali Keluarkan Single Bertajuk "Kau Anggap Aku Apa Yang"
Kota Bandung Miliki Kolam Berkabut
Kakanwil Kemenkumham Jabar Saksikan Sertijab Kalapas Narkotika Kls IIA Bandung