Diskusi Gema Pasundan Jawab Keresahan Publik atas Pelaksanaan Pilkada di Masa Pandemi, Simak Disini!

foto

Bandung, Zonabandung.com -- Gerakan Mahasiswa Pasundan (Gema Pasundan) menggelar Pasundan Berdiskusi Jilid VI secara daring dan luring dengan tema Meningkatkan Partisipasi Publik Pada Pilkada Jawa Barat di Tengah Pandemi Covid-19, via Zoom Cloud Meeting pada Sabtu (21/11/2020).

Adapun Stadium Generale diberikan oleh Menteri Dalam Negeri, Jenderal Pol. (Purn.) Prof. H. Muhammad Tito Karnavian M.A., Ph.D., dengan narasumber Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Unpas, Trias Nugrahadi, dr., SpKN(K), Ketua KPU Jawa Barat, Rifki Alimubarok., M.Si dan Akademisi Komunikasi politik, Vera Hermawan S.I.Kom., M.I.Kom.

Sementara itu Opening Speech diberikan oleh Ketua Umum Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi., M.Si., dan Presidium Korpus Gema Pasundan, Zendhies Rajo Galan, S.Pd.

Presidium Korpus Gema Pasundan dalam sambutannya mengungkapkan bahwa GEMA Pasundan konsisten untuk mendiskusikan isu-isu strategis yang sedang hangat diperbincangkan oleh khayalak luas.

“Kegiatan ini juga merupakan komitmen dan tanggung jawab GEMA Pasundan kepada Paguyuban Pasundan dan masyarakat, untuk terus berkarya di tengah pandemi dan menelaah setiap permasalahan baru. Dimana kami ingin memberikan pencerahan dari sisi intelektual dan berupaya menebar kebermanfaatan,” terang Rajo.

Menurutnya saat ini masyarakat sedang mengalami kebingungan dalam Pilkada di tengah pandemi sehingga membutuhkan pencerahan, dan lewat dikusi ini akan diulas dari berbagai bidang dengan menghadirkan pakar kesehatan, pakar komunikasi politik, dan KPU.

"Gema pasundan akan selalu hidup dan terus berlipat ganda untuk menebar kebermanfaatan walaupun diumbang ambing ombak dan diterjang badai," ungkapnya mengakhiri sambutan.

Pada opening speech selanjutnya, Prof. Dr.H.M.Didi Turmudzi., M.Si., menyampaikan bahwa Pilkada di masa pandemi ini menjadi hal yang dilematis, hal ini mengingat resiko penyebaran virus Corona karena kasus positif di Jawa Barat masih tinggi.

“Di satu sisi kita harus mengutamakan kesehatan masyarakat. Di sisi lain kepala daerah masa jabatannya sudah habis sehingga kewenangannya menjadi terbatas. Oleh karena itu harus ada solusi, mudah-mudahan Pilkada di Jawa barat dapat berjalan dengan aman dan lancar,” ujarnya.

Prof Didi menambahkan bahwa pemerintah sudah memiliki kebijakan maka semua pihak harus berdisiplin pada protokol kesehatan, agar tidak menjadi korban, menimbulkan masalah baru dan kegaduhan.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bagian dari upaya kita membangun silaturahim, kebersamaan dan komitmen kepada bangsa. Semoga bermanfaat,” tandasnya.

Adapun Ketua KPU Jawa Barat, Rifki Alimubarok., M.Si mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, pada awalnya Pilkada akan diselenggarakan pada 23 September, namun karena pandemi Covid-19 maka ditunda selama tiga bulan, dan akan digelar Desember mendatang.

“Di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, maka kami berjalan berdampingan bersama pemerintah dan DPR bahwa Pilkada ini dilaksanakan dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan dan koordinasi gugus tugas di masing-masing level baik provinsi, kota maupun kabupaten,” terangnya.

Lewat AKB, lanjut Rifki, penyelenggara akan menjamin kesehatan dan keselamatan dalam pemilihan dan pihak yang terlibat, sehingga akan dipastikan bahwa penyelenggara dan pemilih adalah orang yang sehat.

“Saat ini sudah 90% tahapan terpenuhi dalam tahap Pilkada baik anggaran, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), memfasilitasi rapid dan swab tes bagi penyelenggara dan petugas KPPS yang berkoordinasi dengan tim gugus tugas untuk alat dan kesiapan petugas serta pemuktahiran data pemilih sebanyak 11,8 juta jiwa di 8 daerah yang ada di Jawa Barat,” urainya.

Selain itu, sambung Rifki akurasi pemilih pada Pilkada tahun ini dibandingkan sebelumnya telah lebih baik, serta logistik yang sudah siap sehingga hanya menunggu distribusi untuk kemudian proses pemungutan suara yang diharapkan dapat berjalan dengan baik.

"KPU menjamin keamanan dan kesehatan dalam Pilkada, semoga akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan yaitu sehat dan berintegritas,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Unpas, Trias Nugrahadi, dr.,SpKN(K) mengungkapkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, dunia juga pernah digemparkan pada tahun 2003 oleh wabah SARS dan MERS pada tahun 2012, dengan kasus sekitar 8000 dengan angka kematian yang tinggi.

“Covid-19 sudah memakan korban sebanyak 55,6 juta kasus dengan paparan ke 189 negara. Pilkada di tengah pandemi menjadi sesuatu yang harus kita waspadai mengingat kasus dan penyebaran yang tinggi, dimana Covid-19 juga memiliki daya serang tinggi pada orang yang berusia 60 tahun ke atas dan pada orang yang memiliki penyakit bawaan,” terangnya.

Trias menambahkan bahwa pada Pilkada, baik penyelenggara maupun peserta selain menerapkan 3M (Memakai Masker, Mencuci tangan, Menjaga Jarak) juga perlu penyemprotan disinfektan agar media-media yang ada di sekitar ruang pemilihan aman, sirkulasi yang baik seperti udara terbuka, ruang tanpa AC dengan sanitasi yang baik.

Terakhir Akademisi Komunikasi Politik, Vera Hermawan S.I.Kom., M.I.Kom. menambahkan, Pilkada ini penting dilakukan karena memiliki urgensi untuk menjamin hak konstitusional yang harus difasilitasi oleh negara, menegakan prinsip demokrasi, memastikan legitimasi daerah dan parlemen, serta penguatan demokrasi di tingkat lokal.

“Pilkada di tengah pandemi memiliki banyak tantangan seperti ketaatan masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan, kekuatan jaringan internet, bagaimana mengelola sisi psikologis masyarakat di tengah pandemi seperti kekhawatiran dan lain-lain, kemudian sarana dan prasarana,” jelasnya.

Vera mengingatkan bahwa hak politik masyarakat harus tetap digunakan. Tantangan yang ada dapat diatasi dengan kesadaran politik yang disesuaikan dengan kondisi saat ini, di mana pemilih pemula menjadi prioritas disamping masyarakat miskin, disabilitas, warga binaan lapas, rumah sakit dan lainnya.

Editor: Shelly Sillviana

Bagikan melalui
Berita Lainnya
DPD PAN Cimahi Siap Dongkrak Suara Lebih Signifikan di Pemilu Mendatang