Mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi Dihadirkan Sebagai Saksi Sidang RTH

  • Suyono
  • Senin, 27 Juli 2020 | 17:01 WIB
foto

Bandung, Zonabandung.com -- Pengadilan Tindak Pidana Korupsi kembali melanjutkan sidang kasus penyelewengan anggaran Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Bandung dengan terdakwa Mantan Kepala DPKAD Kota Bandung, Herry Nurhayat Mantan Anggota DPRD Tomtom dan Kadar Slamet.

Pada sidang yang digelar pada Senin 27 Juli 2020, sebanyak empat orang saksi dihadirkan Penuntut Umum KPK di ruang sidang satu, mereka yakni; mantan Sekda Edi Siswadi, Mantan anggota DPRD kota Bandung Aat Safaat, Imam Bukhori, dan Kadisdik Jabar Dedi Sopandi.

Edi Siswadi dalam kesaksiaannya menjawab pertanyaan penuntut umum KPK, Haerudin. Edi mengaku ditemui Dadang Suganda. Namun, tak pernah menginstruksikan agar tanah milik Dadang dimasukan dalam Penetapan Lokasi (Penlok) untuk lahan RTH.

Ditanya soal sosok Dadang, Edi mengaku sudah mengenalnya sejak dia menjabat Sekda Kota Bandung. Saat itu, dia ingin bersilaturahmi dan bertemu dengan Agus Slamet dan Hermawan selaku Panitia Pelaksana Kegiaatan (PPK) pengadaan lahan RTH.

"Benar dia menghadap ingin membantu pengadaan lahan," tanya JPU KPK Haerudin.

"Benar karena dia banyak lahanya, makanya saya pertemukan dengam Agus dan Hermawan," jawab Edisis.

Namun Edi membantah jika dirinya sampai memerintahkan Agus dan Hermawan untuk memasukan lahan milik Dadang Suganda alias Demang ke dalam Penlok yang akan dibebaskan Pemkot Bandung.

"Dalam peristiwa pertemuannya ada saya, saya tidak menyangkal. Namun sampai sekekstreem itu menyuruh membantu, saya tidak seperti itu. Itu bukan tipikal saya," ujarnya.

Edi pun sangat menyayangkan karena setiap ada permasalahan selalu yang namanya pimpinan menjadi tumbal.

Seperti masalah proses pengadaan tanah yang tidak sesuai penlok hingga berubahnya anggaran. Padahal Edi sudah meminta agar itu diselesaikan.

Selama ditanya proses pembebasan lahan dan nilai harga pembayaran tanah, Edi mengaku tidak mengetahui secara detail, karena itu teknis di lapangan.

Dirinya hanya menerima laporan setelah semua proses dianggap beres. Setiap pertanyaan Penuntut Umum KPK, dijawab Edisis dengan lancar, namun saat pertanyaan lanjutan yang diajukan penuntut umum KPK.

"Apakah saksi pernah menyerahkan rumah dan sertifikatnya dan rumah tersebut di memperlihatkan di layar monitor".

"Ya itu memang rumahnya, sebenarnya rumah itu dibeli oleh istri saya" ujar Edisis mengiyakan dengan suara serak, seakan menangis.

Sidang yang dipimpin T. Benny Eko Supriadi ditunda untuk istirahat dan makan siang selama 45 menit dan kembali digelar setelah azan Ashar.

Editor: Shelly Sillviana

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Terpidana Mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husen Kembali Disidangkan
Kadispora Kabupaten Garut Jalani Sidang Perdana
Berawal dari MiChat, Pelaku Pencabulan Anak Dibawah Umur Akhirnya Ditangkap
Oded Penuhi Panggilan Sebagai Saksi RTH
Tiga Petinggi Sunda Empire Dituntut Masing-Masing 4 Tahun Penjara