Oman: Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 Harus Punya Stamina Dan Mental Yang Kuat

  • Audin
  • Jumat, 18 Desember 2020 | 19:43 WIB
foto

Majalengka, Zonabandung.com,- Petugas Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah butuh tenaga dan mental yang kuat, terlebih ditengah pandemi dan tingginya curah hujan, banyak pasien Covid-19 yang meninggal serta bencana alam di mana-mana yang semuanya harus ditangani secara tuntas dan tidak menimbulkan ekses.

Salah satunya menjadi petugas penguburan jenazah Covid-19 pun tidak gampang dan sederhana, karena seringkali harus harus berhadapan dengan keluarga yang menolak jenazah dikubur secara Covid-19. Sementara Pemerintah mengintruksikan penguburan dilakukan sesuai protokol Covid-19 karena hasil medis menyebutkan Covid-19 atau probable.

“Keluarga  yang menolak penguburan dilakukan sesuai protokol Covid-19, kadang ada yang memukuli kami dengan kayu, atau dengan tangan kosong. Jika demikian kami bingung harus berhadapan dengan masyarakat juga dengan aturan,” ungkap Oman petugas di BPBD Kabupaten Majalengka.

Pengalaman seperti ini tidak hanya dialami sekali atau dua kali namun sering terjadi karena keluarga menganggap sakit yang diderita almarhum bukan. Ketika terjadi demikian proses penguburanpun berlangsung alot dan lama.

Sebetulnya menurut Kepala Bidang Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Kabupaten Majalengka dan Oman proses penguburan jenazah butuh waktu satu hingga dua jam saja, karena penggalian liang lahat terkadang sudah dilakukan oleh warga setempat.

Proses yang cukup lama biasanya ketika ada penolakan dari masyarakat setempat atau lokasinya yang sangat jauh serta menunggu selesai pemulasaraan dari pihak Rumah Sakit yang juga terkadang mengalami kendala dari keluarga almarhum. Atau persiapan mepasangan lampu dan generator manaka malam hari.

“Tugas kami adalah mengawal dari Rumah Sakit ke Pemakaman, melakukan komunikasi dengan kepala desa setempat dan keluarga hingga penguburan,” katanya.

Proses itu yang butuh waktu cukup lama. Makanya jika kejadian malam hari atau sore hari persiapan harus benar-benar matang, mulai persiapan membawa cangkul, senjata tajam berupa parang atau golok manakala butuh untuk membabat, generator, lampu, densinfektan dan semprotannya  serta APD. Dan tak kalah penting adalah juru foto yang mendokumentasikan setiap momen dan tenaga administrasi, guna menghindari gugatan dari pihak lain.

Indra menyebutkan, suatu saat timnya pernah mengalami kekurangan cangkul hingga akhirnya berusaha meminjam cangkul milik warga yang sebelumnya telah menggali liang lahat. Namun betapa kagetnya warga tersebut tidak bersedia menyerahkannya dengan alasan khawatir terkena virus dan virus terbawa ke rumah. Padahal meminjam cangkul saat itu untuk mempercepat proses penguburan karena hujan deras ditambah kejadiannya malam hari.

Pengalaman pahit lainnya menurut Hendrajat dan Sinta yang bertugas sebagai tenaga administrasi dan pendokumentasian adalah, para petugas disoraki dan diteriaki warga saat akan menggotong jenazah dari ambulan dan membawanya ke pemakaman hingga penguburan. Masyarakat mencemoohkan yang katanya penderita Corona tidak boleh didekati, namun petigas malah membawanya.

 “Menghadapi kondisi ini tetap harus dihadapi dengan lapang dada, hati tak boleh terbawa emosi,” ungkap Indra yang terus mengedukasi stafnya untuk tidak emosi saat menghadapi apapun.

Kejadian itu menurutnya diawal-awal adanya kasus meninggal akibat Covid di bulan Maret, belakangan masyarakat mulai menerima walaupun terkadang lama untuk bisa diyakinkan.

Merekapun berkisah dalam semalam pernah menguburkan hingga tiga kali dengan proses yang cukup lama dan tempat yang berjauhan, pertama harus menguburkan di Desa Salawana, Kecamatan Ligung,  usai penguburan selesai pukul 23.00 WIB harus agi menguburkan di Kecamatan Panyingkiran dan baru selesai pukul 03.00 dini hari, setelah itu berangkat lagi ke Leuwimunding dan pemakaman selesai menjelang siang.

“Tidak hanya lelah karena terus bekerja dan tidak tidur semalaman, yang repot juga harus terus berganti APD apalagi jika pasien positif masker bisa dua rangkap jadi betapa pengapnya,” katanya.

Baju APD setiap penguburan diganti, bekas pakai segera disemprot desinfektan dan dibungkus untuk dititipkan di limbah medis milik Rumah Sakit yang disimpan sambil pulang.

Tiga kasus yang meninggal dalam sehari juga terjadi baru-baru ini, yang pasiennya menjalani perawatan di RSUD Cideres, kejadian itu malam Jumat Kliwon, pasien  meninggal selang waktu satu jam, itu menimpa pasien asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Leuwimunding dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukahaji serta pasien asal Desa Sadasari, Kecamatan Argapura. Semua petugas bekerja penuh tak sempat tidur.

Yang repot jika ada kejadian lain selain yang meninggal juga terjadi longsor,  kedua-duanya harus ditangani para petugas BPBD. Terlebih saat ini adalah musim penghujan longsor kerap terjadi sementara tingkat kematian akibat Covid juga tinggi.

“Butuh stamina yang kuat, mental yang kuat. Doakan kami semua tetap sehat,” kata Oman.

Editor: Ramdan

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Mulai Hari Ini Kota Bandung Berlakukan PPKM
SMSI Bekasi Raya Apresiasi BUMN Bantu Wartawan Terpapar Covid-19
Aparat Gabungan Terus Ajak Warga Patuhi Prokes Cegah Penyebaran Covid-19
Pemkot Bandung Pastikan Bantu Pengangkatan Jenazah Covid-19 Hingga Liang Lahat
Malam Tahun Baru, Pemkot Bandung Akan Tutup Kawasan Publik