Widiyawati Setyaningrum Tetap Berbagi Meski Ditengah Pandemi

  • Bengki
  • Jumat, 29 Mei 2020 | 21:57 WIB
foto

Widiyawati Setyaningrum bersama suami Dwianto Budi Prabowo dan suasana Romadhon Berbagi di depan "POSKO " caffee resto miliknya

Bandung, Zonabandung.com,- Masa diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bandung baik PSBB pertama maupun perpanjangan,  boleh dikata ekonomi Kota Bandung lumpuh khususnya untuk para pengusaha rumah makan,  cafe dan resto. 

Cafe-cafe , rumah makan dan restoran  besar dan kecil,  yang marak dan bertebaran di Bandung,  di masa PSBB,  semua terlihat tutup. Para pengusaha penyedia aneka menu bagi penikmat kuliner itu terpaksa melakukan merumahkan para karyawannya. Meski ada yang berani buka,  itupun hanya melayani pembelian online.

Demikian juga halnya, dengan Coffee & Resto "POSKO", yang terletak di salah satu sudut Jl.  Martanegara  Kota Bandung. Pada masa PSBB,  cafe dan restonya tidak buka.  Cafenya yang biasa digunakan untuk kajian pengajian  yang ramai dengan jemaah pengajian pun terpaksi dihentikan,  menunggu situasi kondusif.

 Namun untuk merumahkan  karyawan, bagi Widiyawati  Setyaningrum,  sang pemilik  "POSKO", ia tidaklah tega. Terbayang di matanya bagaimana mereka diam di rumah tak bekerja, karena pasti  betapa sulinya untuk mencari pekerjaan lain di masa pandemi Covid-19  apalagi bekerja di bidang yang sama bergelut dengan kuliner.

Karyawan  bagi Widiyawati  dianggap seperti keluarganya. Hubungannya bukan atasan dan bawahan. Bila ada kesalahan yang dilakukan karyawannya ia tak pernah marah, hanya dikasih tahu dengan lembut,  dan itu sudah cukup bagi karyawan itu untuk memperbaiki  kesalahannya.

Di awal pemberlakuan PSBB,  3 hari  cafenya sempat benar-benar tidak buka sama sekali.  Tak ada ramainya jemaah yang datang ke pengajian, tak ada ustad-ustad yang tausiahnya menyejukkan hati. Tak ada kesibukan karyawannya  saat memasak dan melayani tamu.  Hati Widiya begitu berduka. Gundah dan hampa.

"Saya seperti kehilangan tenaga Mba,  hati saya sedih.  Serasa hampa hidup saya, " ujarnya kepada Siti Sundari  koresponden Zona Bandung.

Akhirnya Widiya, yang biasa aktif  pun tak mau tinggal diam.  Otaknya berputar. Dia berpikir,  bagaimana "POSKO" nya tetap ada aktivitas, jemaah pun tidak kehilangan kegiatan dan dirinya pun tidak merasa hampa. 

Diam di rumah tanpa ada aktivitas apa-apa, bukanlah sifatnya. Apalagi sebagai isteri prajurit TNI. Ia biasa bergerak cepat. Jiwa sosialnya yang suka berbagi, begitu menggebu-gebu di hatinya. Hatinya cepat terenyuh bila melihat orang menderita. Ia yang biasa rutin bersama timnya mengadakan kegiatan-kegiatan sosial seperti "Jum'at Berkah", kunjungan ke panti-panti asuhan,  panti jompo,  ke anak jalanan,  ke Lembaga Pemasyarakatan,  ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS), dan tempat-tempat lainnya dengan berbagai sasaran, hatinya berontak.  Widiya pun bangkit dan bergerak.

Memasuki bulan Romadhon,  ia pun  mengutarakan keinginannya untuk tetap mengadakan "Jum'at Berkah"  dan "Romadhon Berbagi" kepada jemaah tim pengajian yang biasa ikut bersama - sama melakukan  kegiatan sosial. Ternyata timnya pun menyambut antusias.Demikian juga keluarganya.  Dan yang lebih membahagiakan  lagi adalah dia tidak merumahkan karyawannya, walau bekerja tidak full.

"Alhamdulillah  karyawan mau bekerja walau dengan  digaji 50% Mbak.  Mereka malah seneng dan ikhlas bekerja," jelas Widiya dengan mata berbinar. 

Saat penulis temui pada Jumat  2-H jelang Hari Raya Fitri  (22/08/2020) lalu,   Mamah,  demikian ia biasa disapa tim jemaah kajian, baru saja  selesai melakukan pembagian nasi kotak gratis untuk berbuka puasa di "POSKO".

"Itu saya lakukan di bulan puasa awalnya hanya berupa ta'jil,  untuk 100 orang. Alhamdulillah  kegiatan "Romadhon Berbagi " yang diadakan  tiap hari Selasa dan Jum'at  ini terus bertambah jumlahnya. Dan sekarang Jum'at  karena terakhir mau lebaran kita membagikan sampai 600 nasi box,"  tambah Widiya.

Adanya antrean panjang yang terjadi saat pembagian nasi box, ibu dari 4 orang anak itu sempat mengungkapkan rasa khawatirnya.

"Duuh saya sendiri khawatir. Ini kan PSBB ya,  untunglah mereka bisa menjaga jarak walau     agak rapat juga jaraknya.  Yaa semoga mereka sehat,  bahagia bisa berbuka puasa dengan nasi box dari kami.

Wanita kelahiran tahun 1967 asal Kebumen  ini,  memang dikenal amat energik dan berjiwa sosial.  Sebagai isteri dari Dwianto Budi Prabowo, perwira tinggi di jajaran TNI AD,  sejak dinas di Papua Widia  amat menaruh perhatian  pada anggotanya khususnya untuk prajurit yang berjaga d pos penjagaan. 

"Sering saya keluar malam pulangnya bawa makanan ringan untuk anggota yang sedang tugas  jaga. Yaa dengan kemampuan kami sebagai perwira muda yang baru menikah,  itu cukup untuk membangun bukan sekedar  antara komandan dan anak buah,  tapi lebih dari itu perhatian kecil kita itu mampu membangun  hubungan emosional yang kuat,"  jelas Widiya  seraya menambahkan  kalau pengisi hiburan di Cafenya  dia juga menempatkan  anggotanya yang berbakat di bidang  musik.

Bagi Widia,  memang kepuasan tersendiri  jika orang yang diberinya  begitu bahagia dan bersyukur.  Pernah ia bertemu dengan tukang becak saat perjalanan  kegiatan sosialnya menuju Andir, Widiya menghampiri  dan memberinya nasi kotak kepada Tukang becak di pinggir jalan itu.

Hati Widiya begitu terenyuh saat Bapak tua tukang becak itu mengucap  rasa syukurnya mendapat nasi kotak,  karena sudah seharian  mangkal belum juga mendapatkan penumpang untuk sekedar bisa mengisi perut.  Tak ayal,  air mata Widiya pun mengalir,  menyaksikan  Bapak tua tukang becak itu menerima dengan suka cita walau hanya nasi box.

Itu salah satu pengalaman yang berkesan  dan begitu melekat di hati Widia,  sehingga hatinya  akan merasa hampa bila tidak melakukan  kegiatan sosial.

Widiya pun tak mau sendiri dalam menjalankan kegiatan sosialnya.  Bersama tim kajian jemaahnya,  ia melanglang buana ke  panti asuhan dan panti jompo. Sedih hatinya melihat banyak orang tua yang hidup di panti jompo. Sedih hatinya melihat anak-anak di lembaga pemasyarakatan dengan berbagai kasus. Sedih melihat  anak-anak Balita di pegunungan sekolah di PAUD  yang  bangunan sekolahnya tak layak dan kurang memadai.  Widiya terus memohon kepada Tuhan agar dia bisa membantu mereka.

Ide usaha  Cafe yang digelutinya pun  memang diawali untuk bisa berbagi dan membantu sesama.

"Bahagia saya, kegiatan baksos kita bisa terlaksana dengan campur tangan Allah.  Saya ajak teman-teman untuk bergabung membantu baik tenaga, ide dan materi.  Akhirnya kita bisa mengajak anak/anak PAUD  bergembira dengan mengajak berwisata ke kebun binatang,"  ujar Widiya antusias.

 Itulah salah satu sisi seorang Widiyawati Setyaningrum,  sosok wanita isteri prajurit yang senang berbagi. Sedikit berbagi  untuk anak bangsa,  untuk mereka yang kurang beruntung, namun amat  mulia dan berarti bagi negeri dan bangsa ini.  (Siti Sundari)

Editor: Ramdan

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Danlanud Sulaiman Turut Semarakkan HUT Bhayangkara
Stadion SJH Siap Lengkapi Fasilitas Sesuai Standar FIFA
Hari Bhayangkara, 1.000 Paket Semabako Dibagikan Kepada Warga
Kemenkopolhukam Apresiasi PSBB Kota Bandung
Narapidana Anak LPKA Bandung Jalani Ujian Tulis Kenaikan Kelas